Dapatkah Berfilsafat Dimudahkan?

By. Wawan Setyawan (Pak Wawan)

Filsafat adalah titik-titik-titik-titik(……)

Dari banyak pendapat atau definisi filsafat, ijinkanlah penulis memilih satu yang umum dan sudah galib dikenal dan sering disampaikan. Filsafat dimaknai sebagai pencarian kebenaran. Maka siapapun yang mencari kebenaran, maka dia sedang berfilsafat. Berfilsafat dimaknai sebagai “melakukan kegiatan atau dalam proses mencari kebenaran”. Jika filsafat dimaknai sebagai “mencintai kebenaran” maka filsafat adalah pemaknaan (diterapkan) pada orang yang berfilsafat yakni melakukan kegiatan filsafat demi “mencintai kebenaran”, yang nota bene diawali dengan “pencarian kebenaran”. Jika logika “mencintai diawali dengan mencari” ini diikuti dengan taat azas, maka akan diperoleh logika: “hidup untuk sesungguhnya diawali dengan mencintai” yang (sesungguhnya) seperti disampaikan di atas diawali dengan “mencari”. Maka terciptalah pola tingkatan: mencari menuju mencintai menuju hidup untuk: kebenaran. Pertanyaannya kemudian: apa, atau siapa yang dicari, dengan cara apa/bagaimana sesuatu dicari serta mengapa, dimana dan kapan dilakukan, dengan sang awal langkah: pencarian, tak akan penulis bahas disini.
Membaca buku-buku petualangan karya Karl May (Winnetou, Pemburu Binatang di Rio Pecos, Winetou Gugur dll) ataupun Asmaraman Kho Ping Hoo (Pendekar Bodoh, Pendekar Super Sakti dll), sampai dengan JK Rowling (Lord of the Rings), misalnya, ketika seorang pembaca berumur 15 – 17 tahun, akan berbeda dengan ketika pembaca yang sama berumur 25 – 30 tahun, atau 45 – 50 tahun, atau 65-70 tahunan. Jika pencarian kebenaran itu diibaratkan membaca, maka pembacaan pada usia-usia tersebutkan diatas, memiliki tingkat ketinggian dan kerumitannya sendiri. Ketinggian yang termaksud adalah interpretasi makna (tekstual, metafiisk, ataupun filosofis) yang lebih tinggi dan lebih tinggi lagi; sedangkan kerumitan adalah kompleksitas atau keluasan wilayah/ruang yang terfikirkan. Jika diibaratkan maka ketinggian ada pada sumbu x, dan keluasan sumbu y. Makna atau kebenaran atau kebermaknaan adalah resultante dari sumbu x dan y, pada x untuk waktu kronologis serta sumbu y perolehan. Proposisi majemuk diatas akan penulis jadikan titik berangkat. Hal ini pun memperkuat keberadaan dan posisi pembaca sebagai seseorang yang memiliki “ghost reader”. Seseorang yang selalu melakukan “(re)construction of meaning”

Berfilsafat dan atau Menjadi Filsuf?
Berfilsafat menuntut kemampuan berfikir serius. Pemikiran kritis dan pemikiran kreatif. Kritis karena tidak menerima begitu saja apa yang telah didefinisikan alias selalu mempertanyakan dan mempertanyakan ulang. Kreatif karena mampu mencari makna (baru) sesuai dengan apa yang diketahuinya dan diyakininya, dapat menghargai pendapat yang lebih tinggi, lebih luas, lebih dalam dari apa yang dimilikinya. Pemikiran kritis dan kreatif hanya bisa terlahirkan jika dibiasakan berfikir cara bernalar (berlogika) sejak awal, sampil pada saat yang sama memberikan peluang pada dirinya untuk mengembangkan intuisinya. Ditambah lagi dengan menentukan dan mengambil keputusan. Plus, keberanian untuk melawan arus atau berbeda pendapat dengan kebanyakan orang atau cara pandang lain. Courage to be different. Tambahkan sedikit: Different to be courageous!

Tafsir atas “berfilsafat” dan “menjadi ahli filsafat” amat berbeda. Sama atau seibarat: penari dan penari. Penari (pertama) adalah penari untuk “seseorang yang melakukan kegiatan menari”. Penari (kedua) adalah seseorang (yang) ahli tari atau (si) penari ahli. Seibarat penyanyi dan penyanyi. Ketika seseorang melagukan “Tenda Biru” maka dia adalah penyanyi (lagu “Tenda Biru” di suatu ketika), namun tentunya berbeda dengan Tompi. Penyanyi handal yang berprofesi dokter itu. (Atau sebaliknya mas Tompi?) Penyayi dan penyanyi berbeda. Penari dan penari, penyanyi dan penyanyi. Perupa dan perupa. Ada samanya ada bedanya. Saya bersengaja untuk tak membedakan cara penulisan kedua-duanya. Penari dan penari. Penyanyi dan penynyi. Bisa juga perupa dan perupa. Atau bahkan pemimpin dan pemimpin. Politikus dan tikus Politik (nah ini baru beda ya!)

Berfilsafat –dengan demikian- adalah HAK semua orang, atau silahkan berpendapat: berfilsafat adalah KEWAJIBAN semua orang, di semua bidang. Atau semua orang adalah (potensi) berfilsafat. Dengan cara pandang seperti ini, maka berfilsafat tidaklah sesulit yang dibayangkan sejumlah orang (atau mahasiswa). Namun untuk menjadi seorang fisuf, maka tentunya terdapat perbedaan. Penyanyi dan penyanyi. Penari dan penari. Pemilsafat dan filsuf. Kata boleh sama, pemaknaan berbeda. Pemilsafat adalah seseorang yang sedang (melakukan) (belajar) (memulai) berfilsafat. Mencari kebenaran, mencintai kebenaran, hidup mengabdi untuk kebenaran. Pemilsafat menjadi filsuf ibaratnya telur ulat menjadi ulat menjadi kepompong untuk menjadi Kupu-kupu. Istilah pemilsafat merujuk pada kegiatan seseorang yang (sedang) berfilsafat lagi dan lagi. Lagi dan lagi. Berangkat dari kedirian. Pada statsiun berfikir kritis dan kreatif. Untuk dirinya sendiri. Penuh kesendirian, demi kesendirian sepenuhnya. Kedirian ke kedirian. Diri ke dalam diri. Ke dalam diri. Ke diri dalam. Sunyi sendiri. Tak perlu (ke) diri lain (the other – nu lian).

For Whom the Bell Tolls: Untuk Siapa Lonceng Berbunyi
Bedanya pemilsafat dan/dengan seorang filsuf – menurut penulis – dia/filsuf adalah orang yang telah “melakukan perjalanan ke dalam diri” lalu menemukan “seserpih lokan mutiara” sebagai hasil jerih payahnya dalam ketinggian dan keluasan berpikir. “Seserpih lokan mutiara” dari “penyelam(an) samudera kehidupan” inilah yang penulis ibaratkan kebenaran. Atau “kebenaran”. Yang akan/untuk dibahas dengan (banyak) orang lain. Dibahas artinya disetujui, sedikit atau banyak, atau tak disetujui, sedikit atau banyak. Bahkan didengar atau tak didengar oleh orang lain. Dihujat, ditolak, dikritik, dikilikitik. Digasak. Digosok. Digesek. Diejek jelek. Dihina nista. Tak apa-apa. Jika benar kilapnya akan berkilau. Jika tak benar, biarkan kebenaran mengangkanginya. Dan lalu mengoreksinya. Selalu dan selalu demikian.
Seorang filsuf mampu mengartikulasikan “seserpih lokan mutiaranya” karena sang serpih lokan tadi adalah miliknya. Sah. Mengakar, panjang prosesnya, lama nian, menyimpulkannya. Sang serpih lokan bisa kecil mungil, imut-imut atau sebaliknya, besar monumental saking gedenya… amit-amit! Atau bahkan tak besar, tak kecil. Pas saja. Cukup saja. Kaffah saja. Isi dan bentuknya. Bentuk dan isinya. Atau tak (hanya) bentuk, tak (hanya) isi. Karena susah membedakannya. Layaknya api dan udara. Laut dan ombaknya. Daging dan darahnya. Karena tak gampang memilahnya. Bentuk itu berisi. Isi itu berbentuk.

Dari sedikit pengalaman, bacaan, hasil diskusi, seminar dll. Penulis menrefleksikan bahwasanya berfilsafat selalu melibatkan pemikiran kritis, pemikiran kreatif, pencarian mandiri atas sesuatu (konsep ataupun abstraksi dan proposisi), radikal (mengakar), menumbuhkembangkan keberanian (dalam konsep dan mengambil kesimpulan bedrdasarkan argumen dan alasan), menghormati perbedaan karena empati dan simpati, dan yang paling penting, merasa damai karena punya pendapat sendiri. Terutama berupaya dan bersetuju dalam membuktikan apa yang ingin diketahui, sebab bukankah “Know thyself and ye will know thy God”.

Berfilsafat adalah (mencoba) membebaskan diri dari (banyak) kungkungan (pendapat, pengaruh) orang lain untuk menemukan orisinalitas dan genuinitas (ke)diri(an) untuk – menurut Prof Alwasilah – “…memahami dan menempatkan dirinya secara pas di semesta dan alam raya…”. Sudah semestinya dirombak cara berfikir yang mengungkung menelikung memperbingung “… (ber)filsafat itu susah…”. Penulis tak bermaksud mengatakan “(ber)filsafat itu mudah”, namun setidak-tidaknya relakan penulis berpendapat:”… jangan bilang (ber)filsafat itu suuuusaaaaah banget……!”.