“Membangun Kepribadian Anak dengan Tuturan Sehari-hari”

By Zainurrahman

Anak, menurut para ahli seperti Bruner, Piaget dan Vygotsky, merupakan makhluk unik yang aktif dan senantiasa “menciptakan makna” dari apa-apa yang dialaminya. Anak meniru dan mengalami perkembangan di segala aspek dengan peran lingkungan yang sangat signifikan. Lingkungan yang paling berpengaruh dalam kehidupan anak adalah lingkungan keluarga; baik personal dalam keluarga maupun material yang ada dalam lingkungan keluarga tersebut. Anak senantiasa berinteraksi dengan person-person dalam keluarga serta materi-materi (kebendaan) yang eksis dalam lingkungan tersebut. Banyak variabel yang sangat mempengaruhi perkembangan anak, dan dalam kesempatan ini kita akan menilik perkembangan aspek kepribadian melalui tuturan keseharian.

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa anak senantiasa menciptakan makna atas apa yang dialaminya. Pemerolehan bahasa, oleh anak, pertama kali melalui proses imitasi atau peniruan. Anak meniru apa yang diucapkan oleh orang tua, saudara atau siapa saja yang berada dalam lingkungannya. Tanpa mengetahui makna dari setiap tuturan yang dia tiru, anak senantiasa merekam dan mencoba tiap kata demi kata yang dia dengar. Sejauh ini, sangatlah wajar jika kata-kata yang pertama kali diucapkan oleh anak adalah kata-kata yang sengaja diajarkan oleh orang tuanya seperti memanggil mama atau papa.

Akan tetapi, anak juga akan merekam kata-kata yang tidak diajarkan dengan sengaja. Misalkan dari mendengar kebiasaan komunikasi lingkungannya, dari media seperti radio, televisi atau media bersuara lainnya. Tidak heran jika anak sangat mudah menghafal lagu yang sering didengarkan lewat radio atau TV, meskipun mereka tidak tahu jika lagu tersebut tidak wajar mereka nyanyikan karena bukan lagu “Balonku”, “Ulang Tahun” atau “Lihat Kebunku” tetapi lagu “Selingkuh Itu Indah”, “Kekasih Gelapku” dan lain-lain. Ini menunjukkan bahwa orang tua harus ekstra hati-hati dalam mengawasi perkembangan kognisi dan kepribadian anaknya.

Merekam kata-kata untuk memperoleh bahasa oleh anak bukan suatu problema yang harus ditakuti, malahan harus ditunjang demi kelancaran pertumbuhan kompetensi komunikasi mereka. Akan tetapi, ada yang harus disadari bahwa ketika anak mempelajari bahasa, sesungguhnya mereka juga secara tidak langsung membentuk kepribadian; seperti yang dinyatakan teori naturalistik bahwa “Language Learning is Habit Formation”; pembelajaran bahasa adalah pembentukan kepribadian. Artinya, bahwa secara alamiah kepribadian anak itu terbentuk selaras dengan pemerolehan bahasa (imitasi tuturan lingkungannya). Hal inilah yang kira-kira harus kita berikan perhatian ekstra, karena tentu saja tidak ada orang tua yang ingin anaknya memiliki kepribadian yang semrawut, tidak bermoral atau bahkan kurang ajar.

Namun ternyata terdapat kesenjangan antara apa “yang diharapkan” dan apa “yang terjadi”. Setiap orang tua mengharapkan sang belia tumbuh dengan kepribadian luhur. Tetapi dalam prosesnya, orang tua menggunakan tuturan kesehariannya yang “kurang cocok” dihapan anak. Misalnya dengan membentak anak yang lebih tua dengan sebutan dengan nama binatang, dengan bentakan akan memukul seperti “He kambing!!! Aku injak baru tau rasa…”; atau bisa saja saat orang tua duduk ngobrol dengan tetangga sementara menggunakan bahasa atau ungkapan “cacian atau makian” dan celakanya hal itu terjadi tanpa menghiraukan keberadaan anak disekitarnya, atau mungkin anak tetangga.

Perlu kita ingat bahwa keterampilan bahasa pertama (yang sesungguhnya juga merupakan titipan sifat ilahiyah pertama yang dititipkan kepada manusia) adalah keterampilan mendengar (listening, Ing; Sami’an, Arab); setelah itu barulah bisa berbicara karena berbicara merupakan hasil reproduksi dan imitasi dari mendengar. Dengan memperhatikan hal ini, tentu saja kita tidak heran lagi jika ungkapan-ungkapan yang didengar itulah yang akan diucapkan oleh anak. Cepat atau lambat, anak akan terbiasa mengucapkan hal-hal yang tidak cocok diucapkannya, bahkan jika ucapan tersebut ditujukan oleh orang lebih tua seperti “Kamu Bodoh”, “Hei Anjing” sampai pada mencaci-maki teman sebayanya. Tentu saja akan lebih celaka jika ada orang tua tertentu yang merasa “bangga” jika anak mereka bisa meniru mereka.

Item berikut yang patut dikhawatirkan adalah bahwasanya bahasa itu mencerminkan lekuk-lekuk kepribadian dari penutur. Bahasa bukanlah sesuatu yang netral, karena manusia menggunakannya sesuai dengan makna dan pengertian yang dia pahami. Pemahaman manusia akan membentuk budaya pribadi atau kepribadian. Coba anda bandingkan tuturan antara penjaga masjid dan tukang parkir, tentu saja berbeda. Perbedaan tuturan juga mencerminkan “bentuk jiwa”, jika dipandang dari segi psikolinguistik; bahkan bahasa merupakan cermin dari pikiran dan kepribadian. Dengan demikian, bisa diasumsikan bahwa jika anak terbiasa dengan tuturan yang vulgar, maka terbentuklah kepribadian vulgar.

Berdasarkan uraian singkat di atas, bukan tidak mungkin untuk secara sengaja membangun kepribadian anak melalui tuturan sehari-hari. Dimana anak dibiasakan mendengarkan tuturan yang bermuatan moral, halus dan tidak vulgar; sebaliknya anak seyogiyanya dihindarkan dari tuturan-tuturan yang kasar, mengandung cacian, ejekan, hinaan dan vulgar. Ini tentu saja hanya bisa berjalan lancar jika orang tua dari masing-masing anak bersedia untuk introspeksi diri masing-masing, meningkatkan kualitas moral tuturan dan mereduksi nilai-nilai dekadensi moral dalam tuturan sehari-hari. Tidak terkecuali anda, jika ingin anak anda memiliki kepribadian yang baik, hendaknya menjaga tuturan keseharian anda yang bisa secara langsung diresepsi oleh anak dan menjaga anak semaksimal mungkin dari efek negatif tuturan lingkungan yang sangat berpengaruh pada proses pembentukan kepribadian mereka.